Sejarah Klub Sepak Bola Persib

Sejarah Persib

Sejarah Klub Sepak Bola Persib – Persib Bandung atau biasa disebut Persib, adalah sebuah klub sepak bola profesional yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang saat ini bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1.

Klub ini didirikan pada Juni 1933 dari sebuah penggabungan tiga klub. Sejak awal era Liga Indonesia, klub tidak pernah terdegradasi dari liga papan atas. Stadion kandang mereka saat ini adalah Stadion Gelora Bandung Lautan Api baru yang memiliki kapasitas 38.000 penonton.

Klub ini dikenal luas dengan julukannya, yaitu Maung Bandung (Harimau Bandung) dan Pangeran Biru (Pangeran Biru). Mereka baru-baru ini memenangkan gelar Liga Super Indonesia (Sekarang dikenal sebagai Liga 1) pertama mereka pada tahun 2014, gelar pertama mereka dari Liga Indonesia yang baru dibentuk pada tahun 1995, dan 5 gelar Perserikatan.

 

Sejarah Persib

Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan dan beberapa tim lain, seperti SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Sun, Ovu, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi, sepakat untuk bergabung dan lahirlah sebuah perkumpulan baru yang diberi nama Persib. Anwar St. Pamoentjak sebagai ketua. Pada tahun-tahun awal, mereka menjadi runner-up di musim Perserikatan 1933, 1934 dan 1936.

 

1923

Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) dibentuk. Prediksi parlay Klub sepak bola ini menjadi cikal bakal Persive Bandung. Saat itu, BIVB merupakan salah satu organisasi tempur nasionalis bersama Presiden Syamsudin. Kepemimpinan BIVB kemudian dilanjutkan oleh R. Atot, putra pendekar Dewi Sartika, yang memanfaatkan lapangan Tegallega di depan arena pacuan kuda sebagai lapangan sepak bola. Tim BIVB telah menyelenggarakan beberapa pertandingan pinggiran kota seperti Yogyakarta, Jatinegara dan Jakarta. Lihat Juga Sejarah Tottenham Hotspur FC

See also  Sejarah Klub Sepakbola Ukraina

 

19 April 1930

BIVB menghadiri acara kelahiran PSSI dalam konferensi yang digelar di Societeit Hadiprojo Yogyakarta, bersama VIJ Jakarta, SIVB (kini Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), Persik Kediri dan PSM (PSIM Yogyakarta). Telah melakukan. Itu diadakan. BIVB diwakili pada konferensi tersebut oleh Bapak Syamsuddin. Setahun kemudian, konvensi kota / serikat tahunan diadakan. Meski kalah dari VIJ Jakarta, BIVB berhasil melaju ke final turnamen union 1933.

 

14 Maret 1933

Persib lahir dari lipatan dua asosiasi yang telah merasuk nasionalisme Indonesia: Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan Persatuan Sepak Bola Nasional (NVB). Dua asosiasi muncul setelah hilangnya BIVB sebelum mereka bergabung untuk membentuk Persive Bandung. Ketua Persib Bandung yang terpilih saat itu adalah Anwar St. Pamoentjak. Klub lesbi untuk sous peserta sepak bola Persib putra SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA et Merapi.

 

1937

Saat itu, di Bandung ada sebuah asosiasi sepak bola yang dijalankan oleh Belanda, yaitu Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Persatuan ini sering kali memandang rendah dan mencemooh Persib sebagai paguyuban kelas dua. Pasalnya, pertandingan yang diselenggarakan Persib saat itu biasanya digelar di pinggiran kota Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom.

Saat itu, masyarakat juga senang menyaksikan pertandingan yang diselenggarakan oleh VBBO. Tempat pertandingan berada di kota Bandung dan tentunya dinilai lebih bergengsi, yaitu dua lapangan pusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Namun, Persib akhirnya mampu meraih hari rakyat dan mengukuhkan dirinya sebagai satu-satunya perhimpunan sepak bola bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang sebelumnya berafiliasi dengan VBBO seperti UNI dan SIDOLIG juga bergabung dengan Persib.

See also  Sejarah Persik Kediri

Setelah itu, bahkan VBBO meninggalkan lapangan yang sebelumnya dimainkan: lapangan UNI, lapangan SIDO LIG (sekarang stadion Persib), lapangan SPARTA (sekarang stadion Siliwangi). Situasi ini mengukuhkan keberadaan Persib di Bandung.Tahun itu, Persib juga memenangkan koperasi dengan mengalahkan Persis.

 

1948

Persib kembali ke Bandung dalam rangka orang Belanda (NICA) telah kembali dan ingin meluncurkan kembali VBBO meski sudah memiliki nama Indonesia. Pada masa pendudukan NICA, Persib dipulihkan melalui upaya antara lain Dr. Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Senang dengan Presiden Munadi. Perjuangan itu jelas berhasil, maka di Bandung hanya ada satu perserikatan sepak bola yang berlandaskan nasionalisme, yaitu Persib.

 

1950-1962

Demi manajemen organisasi, tahun 1950-an juga mencatat peristiwa penting. Antara tahun 1953-1957 Persib mengakhiri masa nomaden jabatan sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu, R. Enoch, mendirikan Sekretariat Persib di Cilentah. Akhirnya, sebelum upaya R. Soendoro, sejauh ini Persib telah berhasil memiliki Sekretariat Persib yang terletak di Jalan Gurame.

Sejak saat itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara persaingan tenaga kerja semakin meningkat. Persib kemudian memenangkan pada tahun 1961 sesudah mengalahkan PSM Ujung Pandang di final. Berkat prestasi tersebut, Persib diutus untuk mewakili PSSI dalam kejuaraan sepak bola “Aga Khan Cup” di Pakistan pada tahun 1962.

Tahun 1970-1985

Selama tahun 1970-an, Persib mengalami masa-masa sulit dan gelar yang buruk. Sebuah tim yunior disiapkan, dipimpin oleh pelatih Marek Janota. Kemudian tim tingkat tinggi dirancang oleh Risnandar Soendoro. Perpaduan pemain junior dan senior ini membuahkan hasil saat Persib naik ke puncak. Berkat polesan Marek, lahirlah pemain bintang Persib seperti Robby Darwis, Adeng Hudaya dan lain-lain.

Hasil yang ditunjukkan oleh Marek membantu Persib mencapai final melawan PSMS di Unity 198283 dan 198485. Persib harus finis kedua dua kali setelah kalah adu penalti. Final 1984–85 membuat rekor kehadiran saat meledak di sela-sela. Dari kapasitas 100.000 Stadion Senayan, jumlah penonton yang hadir meningkat menjadi 120.000 orang.

See also  Sejarah AFC Fiorentina

 

Tahun 1986-1990

Pada Kompetisi Persatuan 1986, Persib yang dipimpin oleh Nanda Iskandar berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Perseman Manokwari 10 di final dengan satu-satunya gol Jajan Nurjaman di Stadion Senayan. Persib merebut kembali gelar pada turnamen 1990 setelah mengalahkan Persebaya yang berusia 20 tahun melalui gol bunuh diri Subankit dan Dederosadi.

 

Tahun 1993-1994

Pada turnamen serikat terakhir 1993-1994, Persib memenangkan gelar dengan gol dari Yudi Guntara dan Sutiono Lamso setelah mengalahkan PSM di 20 terakhir. Persib juga berhak membawa pulang Piala Presiden selamanya karena nama turnamen yang akan datang akan diubah menjadi Liga Indonesia, peserta dari tim Galatama dan United.

 

1994/1995

Persib mencatatkan namanya dalam sejarah pertandingan liga Indonesia. Persib mampu mencapai final dan mempertahankan trofi juara dengan mengalahkan Petrokimia Putra di depan sekitar 80.000 penonton di final, tertinggal 10 poin dari gol Stuo Ramso pada menit ke-76. Pada tahun , Persib masih diasuh oleh pelatih Indra Thohir dan asisten Jajan Nurjaman serta Emmen “Guru” Swarman.

 

Tahun 1995-2008

Sebagai juara liga, Persib berhak mengikuti Piala Champions Asia (sekarang Liga Champions Asia). Performa Persib membuat Indonesia sangat bangga di babak kualifikasi perempat final. Namun di kancah domestik, Persib sudah terjun ke panggung kekuasaan.

Pelatih datang silih berganti dan pada tahun 2003 Persib awalnya menyesuaikan konten pemain dan pelatih lokal, akhirnya menggunakan jasa pelatih dan pemain asing dalam upaya meningkatkan kinerja mereka. Namun bukannya membaik, performa Persib justru semakin terpuruk. Sledzianowski diganti di tengah jalan saat Persib menginjak kakinya dan bahkan nyaris degradasi.

You May Also Like

About the Author: Roger Jenkins