Sejarah Sepak Bola Persebaya Indonesia

Persebaya Indonesia

Sejarah Sepak Bola Persebaya Indonesia – Persebaya Surabaya adalah klub dengan sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Klub ini didirikan pada tanggal 18 Juni 1927. Pada awalnya, Persebaya Surabaya dikenal dengan nama Soerabhaisasche Indonesian Voetbal Bond (SIVB). Klub ini pada awalnya dihuni oleh orang Belanda di Surabaya.

Kemenangan Terbesar Persebaya Sepanjang Sejarah

Persebaya meraih kemenangan terbesar. Sepanjang sejarahnya, berdiri sejak 1927, Green Force mencetak EMPAT BELAS gol tanpa reaksi apapun kepada PSBI Brita dalam 128 putaran final Piala Indonesia, Minggu siang (9/2).

Persebaya bermain sebagai tim penuh dalam pertandingan di Stadion Jaracrida di Bumimoro, Surabaya. Saya menghadapi tiga tim liga. Persebaya bertujuan untuk menunjukkan aksi terbaiknya kepada Bonek dan penggemar sepak bola di seluruh Indonesia. Tepatnya saat Persebaya mengalahkan Persebaya Tim Jakarta Timur di turnamen Divisi Utama 90 tahun 1998.

Lalu Da Silva, Abrisal Maurana, Rishadi Forge, Octafianus Fernando, Ruben Sanadi, Dutra, dan terakhir Ricky Kayame mencetak tujuh gol lagi. Kemenangan 140 juga merupakan yang terbesar di Piala Indonesia. Sebelumnya, Bhayangkara FC mengunjungi Persitansel di Tangerang Selatan dan mencatatkan 70 kemenangan.

Tak hanya itu, Da Silva juga menjadi top skorer di ajang yang mempertemukan klub-klub dari semua divisi. Er liegt vor Wisnu Nugroho(Persibara Banjarnegara)、Bijahil Chalwa(Central Kalimantan Putra)、Andik Julianto(Blitar United)und Vendry Mofu(Bhayangkara FC)、die drei Toreerzielthaben. Pertandingan sepak bola Arema vs Persebaya dipindahkan karena kekhawatiran akan bentrokan penggemar

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Jawa Timur mengambil keputusan mendadak untuk memindahkan pertandingan semifinal Piala Gubernur Jawa Timur antara Arema FC dan Persebaya ke Stadion Blitar Supriyadi. Laga tersebut dijadwalkan akan digelar pada Selasa pukul 15:30.

Mahakarya Bonek Campus “History of Persebaya” untuk Generasi yang Ingin Tahu Sejarah

Minggu siang 22 Mei 2016, matahari di langit Surabaya sangatlah terik. Sesuatu yang biasa terjadi saat musim kemarau. Salah satu mesin pencatat suhu di jembatan penyeberangan Wonokromo yang saya lewati menunjukkan angka 35 derajat celcius. Panas dan kering.

Perjalanan dari Tambaksari menuju JX International di Jalan A Yani, hampir semua warung kopi dan kafe yang saya lewati ramai-ramai menonton siaran televisi. Siang itu, ada siaran langsung final pertandingan bulu tangkis Piala Thomas. Indonesia menantang Denmark.

Penantian 14 tahun sejak 2002 saat meraih piala terakhir menjadi kerinduan yang sangat hebat. Digambarkan oleh cuitan twitter Cak Fim, penulis buku Mencintai Sepakbola walau Kusut, Piala Thomas laksana film AADC. Secara kebetulan jarak antara AADC pertama dengan AADC 2 juga 14 tahun. Sayang, penantian panjang belum akan berakhir dan masih menunggu dua tahun lagi. Denmark akhirnya memboyong Piala Thomas ke Eropa.

Sekitar pukul 13.00 WIB, saya memarkirkan motor di basemen gedung. Menaiki dua tangga kecil di belakang langsung menuju Coffe Toffee. Di kafe itulah tujuan saya. Terlihat banyak pengunjung memakai kaos hijau. Mahakarya Bonek Campus, History of Persebaya. Itulah gelar karya anak-anak yang tergabung dalam Bonek Campus (Boca) Surabaya.

Sebelum bercerita tentang acaranya, saya akan sedikit menggambarkan apa yang saya tahu sebelum acara dilaksanakan. Empat sampai tiga bulan sebelumnya, saya mendengar akan ada acara dari Boca. Bayu, salah satu anggota Boca, bercerita kepada saya, juga Nindi dan Ilham.

Dan tak terlupakan senior Boca yang biasa saya panggil Mas Kaji (entah nama aslinya siapa). Mereka bersama anggota Boca yang lain bekerja sangat keras dan cerdas. Membuat konsep yang bagus, mengelola manajemen dengan bagus, dan berkomunikasi dengan semua pihak. Mereka melakukannya siang dan malam.

Mereka mulai mengeksekusi draft program yang telah disusun sebelumnya. Mengumpulkan semua data dari berbagai pihak. Mencari berita-berita Persebaya di media seperti Jawa Pos dan perpustakaan. Mengunjungi mantan pemain dan pelatih pun mereka lakukan. Ya, siang malam mereka allout demi suksesnya acara. Beberapa mantan pelatih dan pemain bahkan ditemui di tempat mereka bekerja. Mereka juga bekerjasama dengan komunitas Surabaya Jersey Community serta Klub Sepak Bola Persib dan mengundang seluruh komunitas sepak bola Eropa hadir di acara tersebut.

Sementara, di sisi luar terdapat beberapa papan kayu. Tiap-tiap papan terdapat tempelan berita koran yang dibagi dalam beberapa edisi. Mulai edisi tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan 2000-an. Potongan berita memperlihatkan Persebaya pernah melawan beberapa kesebelasan dari Eropa dan Amerika latin. Tepat di depan papan, tergantung puluhan jersey original dari masa ke masa.

Awalnya, acara ini rencananya digelar dua hari, Sabtu dan Minggu, 21-22 Mei 2016. Akan tetapi, di detik-detik terakhir, panitia hanya mendapatkan ijin di hari Minggu. Sabtu siang sampai malam masih dipakai untuk acara lain. Kerja keras anak-anak Boca dimulai lagi Sabtu Malam. Diiringi hujan deras, mereka sudah melakukan loading properti pameran untuk keesokan harinya. Luar biasa.

Tepat pukul 13.30 WIB, acara dimulai dengan bedah buku terbitan Fandom.id, sebuah portal online sepak bola berbasis di Yogyakarta. Dalam bedah buku berjudul Sepakbola 2.0, dihadirkan tiga pembicara. Ketiganya juga terlibat dalam penulisan buku tersebut. Fajar Junaedi (Dosen Komunikasi), Sirajudin Hasbi (Founder Fando), dan terakhir anak muda Surabaya Arif Chusnudin (Mahasiswa Unair).

Mereka membahas isi buku dengan gaya masing-masing. Para pengunjung semakin banyak. Mas Fajar, biasa saya menyebut, mendapat giliran pertama. Dilanjutkan Hasbi dan Arif. Suasana makin cair dengan dialog interaktif dengan pengunjung. Kalau pingin mendapatkan buku Sepakbola 2.0 bisa langsung klik websitenya fandom.id. Buku ini sangat menarik dan inspiratif. Percayalah, ini bukan promosi.

Setelah bedah buku, acara demi acara dilaksanakan. Diskusi dengan Fredy Muli, Soebodro, Yongki Kastanya, dan Mat Drai silih berganti meramaikan area dalam kafe. Semakin sore, pengunjung semakin membludak. Banyak yang lesehan di lantai. Acara ini juga diliput secara online oleh teman-teman dari Arek Bonek 1927 yang tergabung dalam kru Radio AB1927. Digawangi Cak Gerson Sumolang, Pieter Ambon, dan penyiar kocak Oka Gundul. Mereka menyiarkan live streaming via radio dan aplikasi televisi ustream. Sejarah akan mencatat ini, kawan.